Desa Gayam Penghasil Suling Bambu

Kamis, 28 Juni 2012 12:53 WIB
Desa Gayam Penghasil Suling Bambu Pengrajin Suling Bambu di Desa Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.

Pengrajin Suling Bambu di Desa Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.

KEDIRI-Suling bambu di Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur sudah menjadi sumber penghasilan bagi beberapa warga setempat. Bahkan hasil karya mereka pernah merambah ke negeri seberang.

Kerajinan suling bambo bagi mereka adalah sesuatu yang telah dikenal sejak puluhan tahun silam. Pengrajin yang ada saat ini adalah penerus secara turun temurun dari pendahulunya. Umumnya, pekerjaan itu dikerjakan secara gotong royong antar anggota keluarga.

“ asal muasalnya saya gak tahu kapan, dari sewaktu saya kecil suling ini sudah ada. Saya menekuninya sejak tahun 1973. itupun saya meneruskan usaha kakak saya,” kata Kadri, seorang pengrajin.

Kadri, sempat merasakan kejayaan usaha setelah ada investor asing yang merangkulnya. Investor itu memasarkan suling bambunya hingga ke manca negara seperti Australia. Namun sayang kini ekspornya tidak berlanjut akibat beberapa hal.

“Dulu sulingnya saya kirim ke Bali, lalu oleh dia dikirim ke Australia. Gara-gara ada bom Bali, pengiriman mandek total. Orangnya sudah tidak bisa saya hubungi, bahkan juru bahasanya juga tidak bisa dikontak,” sesal Kadri.

Kini ia mengandalkan pemasaran ditingkat lokal. Meskipun demikian setiap bulannya rata-rata ia mampu menghasilkan empat ribu suling dari berbagai jenis, seperti suling untuk gending jawa, suling china, suling nada C, D minor, F serta G serta nada lainnya. Suling itu kemudian diambil langsung oleh para tengkulak untuk dipasarkan dibeberapa daerah di Jawa Timur.

Khamid, perajin lainnya menguraikan hal yang sama. Ia mengaku mampu mencukupi kebutuhan ekonomi, bahkan kebutuhan sekolah tiga anaknya hingga lulus sekolah tingkat atas hanya bermodalkan menjadi pembuat suling bamboo.

“ Anak saya semua sekolah, dan ada pula yang menikah terus saya belikan tanah uangnya ya dari suling ini,” kata Khamid.

Sebenarnya membuat suling bukan suatu hal yang susah. Bambu bahan baku yang dipergunakan adalah bambu jenis Wuluh karena jenis ini mempunyai diameter kecil serta tipis. Jika di wilayah Kediri sudah mulai susah di cari, pengrajin biasanya mendatangkan dari wilayah Malang.

Sementara proses pembuatannya, bambu yang sudah dipotong ukuran 30 cm – 60 cm diberi lubang tiup disalah satu ujungnya serta lubang nada dibagian ujung yang lain. Pelubangan dilakukan dengan pisau kecil kemudian area lubang dihaluskan dengan solder.

Disusul kemudian proses pencucian lalu pemberian corak. Pemberian corak dapat dilakukan dengan menggunakan politur pewarna atau dengan cara dibatik, yaitu dilakukan dengan menggambar motif dengan bara api. Cara terakhir ini membutuhkan ketelatenan tinggi.

Harga tiap jenis suling bervariatif.  Untuk suling mainan atau disebut suling Doremi rata-rata dibanderol dengan harga Rp. 10 ribu per 20 biji (kodi). Sementara untuk suling instrumen musik dijual per paket dengan harga hingga Rp. 200 ribu, tergantung jumlah dan kelengkapan nada.

Jumlah pengrajin suling bambu di Kelurahan tersebut semakin berkurang seiring perkembangan jaman. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, diantaranya adalah tergantikannya dengan bahan logam. Bahkan saat pengrajin beralih pada suling permainan, mereka juga tetap kalah dengan mainan plastik import.   (*)



Related